» Selayang Pandang JK Records

KINI pengelolaan JK Records beralih dari Judhi Kristianto ke putra sulungnya, Leonard "Nyo" Kristianto, terhitung sejak 2010. Mewarisi perusahaan rekaman yang pernah berjaya di dekade 1982-1995, bukanlah perkara gampang. Tidak Mudah. Apalagi aset warisannya berupa 12.000 lebih rekaman lagu dalam format analog, sementara tuntutan di era milenium saat ini adalah teknologi recording digital.

Itu artinya, seluruh warisan tersebut, teknologi format rekamannya harus ditransfer dari analog ke digital. Jika tidak, aset itu akan jadi benda mati. Tidak bisa diberdayakan. Padahal, secara bisnis, cukup potensial dan menjanjikan. Dan secara karya seni, seluruh lagu-lagu lama produksi JK Records masing-masing punya nilai sejarah yang tidak bisa dilupakan begitu saja.

Dalam konteks urusan yang tidak gampang itu, Nyo selaku pewaris, mesti bekerja keras sekaligus ekstra memeras pikiran untuk menyelamatkannya. Tidak bisa tidak. Mau tidak mau, Nyo harus berjibaku. Mulai dari menyiapkan tim kreatif recording digital, mengumpulkan dan mendata kembali ribuan lagu rekaman JK Records untuk digitalisasi, memproduksi ulang dalam format kekinian (digital platforms), hingga membangun strategi promosi dan pemasaran secara online dan melalui social media.

Pengalihan pimpinan JK Records bukan lantaran pewarisnya semata-mata putra sulung. Judhi Kristianto sadar, bahwa Nyo memang punya basic musik, alumni Berklee College of Music, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), perguruan tinggi kelas dunia yang terkenal dengan aliran musik modernnya.

Bakat musik Nyo dari ibunya. Sejak kecil memang suka musik. Hasil pengembangan talentanya itu, dia menuai prestasi di lomba Yamaha Electone. Ajang kejuaraan musik bergengsi itu diraihnya beberapa kali. Semangat bermusik pun kian menggebu setelah bapaknya menghadiahkan alat musik Minimoog (synthesizer analog) pada saat Nyo berumur 11 tahun. Begitu pula masa remajanya, dihabisi di dunia musik, membentuk kelompok musik bersama teman-temannya.

Bukan cuma urusan nge-band, ternyata Nyo juga punya hobi lain yang berkaitan dengan musik, yakni nge-deejay. Sebagai disc jockey (DJ), dia piawai bermain turntable (alat pemutar piringan hitam). Pengolahan lagu-lagu genre musik disko mengantarnya menjuarai kelas junior Festival Battle DJ DMC Style pada 1987.

Ketika kuliah di Negeri Paman Sam (AS), Nyo tidak tinggal diam. Selain bekerja paruh waktu, juga membuat single, album dan jingle musik. Pergaulan di kancah musik internasional dilakoni. Beberapa musisi dunia di AS menjadi sahabatnya.

Sekembali di tanah air, Nyo tidak langsung terima estafet tongkat pimpinan JK Records dari sang bapak. Tapi lebih dulu malang-melintang di berbagai kegiatan musik, baik event nasional maupun internasional. Baru pada 2010 Judhi Kristianto mempercayainya, setelah JK Records vakum sejak 1995.

Tidak mudah memang membangun kembali perusahaan dalam kondisi mati suri selama rentang waktu 15 tahun. Namun putra produser beken itu yakin, JK Records bisa kembali berjaya seperti dulu, apalagi penggemar fanatiknya yang tergabung dalam "jekamania" masih cukup banyak.

Dengan keyakinan itu Nyo mengatur strategi produksi rekaman digital, menyusul perusahaan lain yang lebih dulu eksis. Termasuk tentunya menguasai jejaring sosial, baik untuk pemasaran maupun promosi. Di antaranya menjalin kerjasama dengan media sosial seperti Youtube, Facebook, Twitter, Instagram dan banyak lainnya.

Dua tahun sejak pimpinan JK Records diambil alih, tepatnya pada 2012, Nyo menggelontorkan album Nike Astrina bertajuk "Hanya Satu Nama", yang direkam JK Records pada tahun 1988 dan belum sempat dirilis pada saat itu. Perlu diketahui, Nike Astrina adalah nama pemberian Judhi Kristiantho buat penyanyi cilik asal Bandung ketika itu, Raden Rara Nike Ratnadilla, jauh sebelum tenar dengan sebutan: "Nike Ardila".

Album Dua Generasi

Pada 2014 Nyo kembali meluncurkan album re-package dari lagu-lagu hits salah satu penyanyi legendaris JK Records, Wahyo OS, berjudul "Bila Kau Rindu Sebut Namaku". Berbeda dengan album Nike Astrina, pada album penyanyi pria ini aransemen musiknya dibongkar oleh Nyo ke dalam bentuk teknologi recording modern. Sementara vokal Wahyu OS tetap original, rekaman lama yang dibuat sepanjang tahun 1984 sampai 1988.

Hal serupa dilakukan Nyo untuk album penyanyi legendaris wanita JK Records, Dian Piesesha, bertajuk "Aku Ingat Dirimu". Dirilis ke publik pada pertengahan 2016. Bisa dikatakan, album baru stock lama. Ini lantaran pada album berisi 12 lagu itu, dua lagu di antaranya baru (Aku Ingat Dirimu dan Dalam Cinta Kita), sementara 10 lagu lainnya merupakan re-aransemen dari lagu yang pernah populer di era 1982-1995.

Baik album Wahyu OS "Bila Kau Rindu Sebut Namaku" maupun album Dian Piesesha "Aku Ingat Dirimu", diistilahkan Nyo sebagai produksi rekaman album dua generasi. Aransemen musik disesuaikan dengan selera anak muda saat ini, sementara karakter vokalnya tetap yang lama.

Album dua generasi merupakan strategi Nyo untuk menyerap penggemar baru (anak muda) dan fans lama Dian Piesesha serta Wahyu OS. Dengan cara itu, lagu-lagu lama dua penyanyi tersebut diberdayakan bagi pencinta musik saat ini. Sehingga asset JK Records tidak menjadi benda mati, dan JK Records tetap abadi. Sepertinya, hal serupa bakal diberlakukan untuk seluruh produksi rekaman penyanyi populer JK Records.

Modal Nekat

Nama JK Records adalah sinonim dari Judhi Kristianto (JK). Perusahaan rekaman ini diproklamirkan pada 1982, terlahir dari sosok yang bukan ber-basic musik. Melainkan pengusaha percetakan yang punya hobi fotografi dan bikin desain cover cassette, dan juga tercatat sebagai manajer klub sepak bola Galatama (Liga Sepak Bola Utama Indonesia) serta distributor sepeda motor Suzuki.

Kalau boleh dikatakan, JK Records didirikan Judhi Kristianto bermodal nekat. Artinya, tak punya pengalaman apalagi belajar bisnis industri rekaman. Yang diketahui hanya mencetak sampul album rekaman (cover cassette) milik perusahaan orang lain. Dengan modal pengalaman mencetak itulah kemudian muncul keinginannya menjadi produser rekaman, yang sebelumnya tidak terpikirkan apalagi bermimpi.

Tekad itu bermula dari order cetakan sampul album rekaman, di mana desainnya dinilai kurang menarik. Dibuat asal-asalan. Tentu saja bikin Judhi Kristianto tidak sreg melihatnya. Ingin rasanya merubah desain, tapi dia tak bisa berbuat banyak, mengingat tugasnya adalah mencetak cover cassette sesuai pesanan.

Berangkat dari ketidakpuasan itulah Judhi Kristianto kemudian berpikiran ingin menjadi produser rekaman, di mana setiap sampul produksinya akan di desain semenarik mungkin. Keinginan itupun bukan sebatas angan-angan. Di awal periode 1982, dia mulai mengibarkan bendera JK Records, salah satu perusahaan rekaman terpopuler saat itu dengan jargon: "Ingat Musik Pop, Ingat JK Records".

Adalah model Chintami Atmanagara yang didapuk sebagai penyanyi pertama JK Records. Kebetulan artis tersebut, ketika itu, terikat kontrak pemotretan kalender dengan Judhi Kristianto. Dan musisi yang mengawali produksi adalah Maxie Mamiri. Jadilah produksi pertama JK Records bertajuk "Cintamu Cintaku" pada 1982.

Ternyata, debut awal produksi JK Records dengan desain sampul album yang digarap cukup apik, mendapat sambutan masyarakat luas. Dan suksesnya album Chintami Atmanagara bukan sekedar kebetulan. Ada sentuhan lain dari JK Records sehingga pasar menerimanya, berbeda dengan produk rekaman yang sudah ada sebelumnya.

Judhi Kristianto pun bersemangat mengembangkan bisnis barunya itu lebih jauh lagi. Berikutnya artis film, model, penyanyi dan musisi ternama pada masa itu, seperti Chintami Atmanagara, Dian Piesesha, Pance Pondaag, Meriam Bellina, Obbie Messakh, Heidy Diana, Ria Angelina, Lydia Natalia, Helen Sparingga, Richie Ricardo, Deddy Dores, dan banyak lainnya, diorbitkan untuk bergabung di JK Records.

Setiap album penyanyi JK Records di rilis ke pasaran melulu diterima masyarakat. Laris manis. Dan sejarah mencatat, album rekaman produksi JK Records berjudul "Tak Ingin Sendiri" (1984) yang dinyanyikan Dian Piesesha, menjadi lagu pop paling disukai masyarakat kala itu. Angka penjualan mencapai 3 juta keping lebih.

Berbicara tentang JK Records, sisi lain yang tak kalah menariknya adalah strategi dagang Judhi Kristianto dengan memberikan hadiah (undian) sepeda motor, televisi, dan radio bagi setiap pembeli produksi rekamannya. Ide yang tak terpikirkan sebelumnya oleh produser rekaman lain di masa itu.

Kiat-kiat itulah yang menghantarkan JK Records bukan hanya terkenal di dalam negeri, tapi juga dunia. Dan hingga saat ini penggemar fanatik yang tergabung pada Jekamania masih tetap eksis dan dapat mendengarkan lagu lagu produksi JK Records di toko toko digital di seluruh dunia seperti; YouTube, iTunes, Spotify, Google Music, JOOX, Deezer, Guvera, Pandora, Younder, Amazon.com, Melon, Langit Musik dll.



File download concept
Terima kasih telah membeli produk JK Record. Silakan gunakan code verifikasi yang tertera pada bonus card yang anda dapatkan. Klik tombol download untuk mendapatkannya dalam bentuk file MP3. Ingat Musik Pop Ingat JK Record.


  
Jekart
Artist & Lagu-Lagu
JK Records
ARTIST MANAGEMENT
Agusta Subagio
agusta@jkrecord.co.id
081280182005